Rabu, 10 November 2010

inflasi 2010 terkendali

Pemerintah Optimistis Inflasi 2010 Terkendali

Pemerintah Optimistis Inflasi 2010 Terkendali
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Hatta Rajasa, menyatakan optimismenya bahwa laju inflasi selama 2010 akan terkendali pada kisaran lima plus minus satu persen.

"Kita masih optimis lima plus minus satu persen akan tercapai," kata Hatta Rajasa di Gedung Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Kamis.

Hatta mengatakan, tingkat inflasi pada Agustus lebih rendah dibanding Juli, yang menunjukkan upaya pengendalian harga pangan menunjukkan hasil.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi selama Agustus 2010 mencapai 0,76 persen, inflasi tahun kalender 4,82 persen dan inflasi year on year sebesar 6,44 persen.

Ia mengakui, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang ditagih pada Agustus memang memberi efek pada tingkat inflasi. "Ini harus diwaspadai di 2011, ini harus kita lihat dan cermati," katanya.

Semula diperkirakan sumbangan kenaikan TDL terhadap inflasi hanya 0,22 persen namun ternyata kemudian mencapai 0,35 persen.

Sementara itu terkait rencana kenaikan TDL sebesar 15 persen dan memotong subsidi listrik pada 2011, Menkeu Agus Martowardojo mengatakan, rencana itu sudah ada di "roadmap" pemerintah.

"Itu ada dalam roadmap untuk jangka waktu tiga tahun, termasuk juga subsidi pupuk," katanya.

Menurut dia, pemerintah akan menangani subsidi listrik dalam empat tahun dan menangani BBM dalam lima tahun. Meski ada pengurangan subsidi namun bukan berarti pemerintah tidak memperhatikan kaum marginal atau kaum yang susah.

"Kita akan ada program khusus untuk mengurusi dan memerhatikan dan memerdayakan masyarakat yang termarginalkan atau yang miskin, tapi untuk pupuk, listrik, dan BBM perlu suatu roadmap yang intinya membuat APBN lebih sehat," katanya.
sumber : http://www.antaranews.com/berita/1283406852/pemerintah-optimistis-inflasi-2010-terkendali

laju inflasi 2010 akan lampaui target 5,3 persen

Laju Inflasi 2010 Akan Lampaui Target 5,3%

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan laju inflasi hingga akhir tahun 2010 ini akan melampaui target 5,3% yang ditetapkan oleh pemerintah.
.
Indeks Harga Saham
.
Sementara laju inflasi untuk semester pertama, Januari hingga Juni 2010 telah mencapai 2,42%, kemungkinan dalam semester kedua yang dimulai hari ini akan ada peluang untuk mencapai 3%.
Akan ada laju yang lebih besar di semester kedua ini, karena menurut data pada tahun-tahun sebelumnya sekitar bulan Juli hingga September adalah bulan yang tidak bersahabat berkenaan dengan iuran anak sekolahan, dan nanti akan menyambut puasa dan Hari Raya Lebaran, bahkan yang saat ini menjadi kekuatiran masyarakat adalah kenaikan TDL.
Untuk menghindari target laju inflasi yang melampaui target, pemerintah masih mempunyai kesempatan dengan cara mengendalikan harga barang ke depan, yaitu mengelola distribusi dan menambah impor kebutuhan pokok, selain beras.


Sementara saat ini pasar menantikan data inflasi perihal kekuatiran akan pemulihan ekonomi global karena lambatnya perekonomian Cina yang membuat mata uang Asia melemah terhadap dolar AS.
sumber :http://id.ibtimes.com/articles/1956/20100701/inflasi-laju-statistik-target-pasar-impor

inflasi 2010 bisa tujuh persen

Inflasi 2010 Bisa Tujuh Persen



Sabtu, 03 Oktober 2009
Kenaikan Harga – Kenaikan Harga pada September di Luar Perhitungan
Perubahan pola subsidi akan mendorong inflasi tahun depan mencapai tujuh persen.

JAKARTA , Laju inflasi tahun 2010 diperkirakan bisa mendekati tujuh persen. Laju inflasi yang cepat disumbangkan oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered price).

"Proyeksi kami inflasi 2010 adalah 6,7 persen. Bahkan Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi 2010 sebesar 7,5 persen.

Perkiraan percepatan laju inflasi juga merupakan akibat dari perubahan harga-harga yang diatur pemerintah, seiring perubahan pola subsidi," kata ekonom Bank Danamon Helmi Arman di Jakarta, Jumat (30/9).

Pada 2010, pemerintah merencanakan perubahan pola subisidi dari harga menjadi terarah (targetted). Subsidi akan diberikan langsung kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, tidak lagi dengan intervensi harga.

Dengan potensi tersebut, menurut Helmi, dibutuhkan upaya ekstra dari otoritas fiskal dan otoritas moneter dalam pengelolaan inflasi.

Otoritas fiskal harus mampu menjaga kecukupan pasokan barang dan jasa, sementara otoritas moneter melakukan stabilisasi nilai tukar dan suku bunga.

Menurut Direktur Statistik Harga BPS Sasmito Hadiwibowo, laju inflasi inti yang lebih lebih rendah dari inflasi umum menunjukkan otoritas fiskal dan moneter mampu meredam inflasi agar tidak terlalu tinggi.

"Pada dasarnya, inflasi yang sepantasnya terjadi adalah inflasi inti. Inflasi inti tidak mudah berubah seiring pergerakan harga barang dan jasa, dan cenderung bersifat permanen," kata Sasmito.

Saat inflasi inti lebih tinggi dibanding inflasi umum, lanjut Sasmito, maka pasti ada ada komponen yang menarik inflasi ke bawah. "Dalam hal ini, komponen tersebut adalah administered price (barang dengan harga diatur pemerintah)," ujar dia.

Inflasi inti adalah inflasi komoditas yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental, seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar, serta keseimbangan permintaan dan penawaran agregat. Ini akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen.

Saat inflasi inti stabil, maka pergerakan harga secara umum dapat dikatakan terjaga.

"Laju inflasi inti yang relatif stabil memang bagus. Namun, inflasi inti yang masih cukup tinggi memberikan gambaran adanya tekanan inflasi di masa mendatang," kata Helmi.

Inflasi inti, lanjut Helmi, menunjukkan faktor fundamental, yang bersifat permanen. "Dampak inflasi inti yang tinggi saat ini menjadi basis adanya potensi tekanan inflasi yang dapat dirasakan tahun depan," kata dia.


Meredam Harga

Pada Agustus, laju inflasi administered price secara tahunan adalah -5,73 persen. "Artinya, pemerintah mampu meredam kenaikan harga sehingga inflasi lebih rendah dari yang sepantasnya," ujar Sasmita.

Pengelolaan inflasi selama September dinilai cukup baik, karena komponen inflasi inti stabil.

"Inflasi inti pada September relatif stabil, yaitu 4,86 persen secara year on year. Pada Agustus, inflasi inti year on year adalah 4,84 persen," kata Helmi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan enggan untuk menilai kinerja pengelolaan inflasi September. "Ada hal yang di luar perhitungan yang terjadi pada September," ujar dia.

Selama ini, lanjut Rusman, kinerja pengelolaan inflasi selalu dinilai dari harga bahan-bahan pokok, terutama makanan.

"Namun pada September, inflasi juga disumbangkan oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi, yang sebelumnya tidak diperhatikan dalam menilai kinerja pengelolaan inflasi," kata dia.

Inflasi untuk bahan pokok sendiri, tambah Rusman, dalam dua bulan terakhir memang cukup cepat.

"Begitu juga inflasi umum. Namun, ada excuse karena kita sudah terbiasa dengan inflasi yang rendah sejak awal tahun," kata dia.

Salah satu barang administered price yang sangat memengaruhi inflasi adalah bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM selalu diikuti dengan percepatan laju inflasi.

Pada 2008, laju inflasi mencapai 11,04 persen akibat kenaikan harga BBM pada akhir Mei. Dalam RAPBN 2010, pemerintah mengajukan besaran anggaran subsidi BBM sebesar 59 triliun rupiah. Meningkat dibandingkan alokasi pada 2009, yaitu 54 triliun rupiah. 

sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=22797

Senin, 08 November 2010

inflasi indonesia bergerak naik

 INFLASI INDONESIA BERGERAK NAIK
 Laju inflasi tahun depan akan meningkat karena dorongan inflasi mulai makin meninggi dalam beberapa tahun terakhir akibat penyesuaian terhadap "administered prices". Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution menyatakan prediksinya dalam asumsi makro ekonomi RAPBN 2011.(05/10)

Harga yang ditetapkan pemerintah (administered price) yang dimaksud antara lain faktor tarif dasar liistrik dan tarif tol maupun sektor jasa lainnya. Dengan adanya kondisi ini BI sebagai badan moneter tetap berusaha menjaga laju inflasi dengan mengusahakan uang beredar tidak terlalu banyak hingga mengubah kebijakan dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM).

Kebijakan menaikkan gira wajib minimum akan menurunkan jumlah uang beredar sehingga meredam inflasi. Selain itu, BI juga tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) tetap berada pada angka 6.5 persen.

Pernyataan yang mendukung juga diungkapkan oleh kepala BPS Rueman Heriawan. Dikatakannya bahwa laju inflasi sebesar 2.78 persen pada 2008 sulit dicapai kembali, karena angka inflasi tersebut terbantu oleh adanya krisis global. Berdasarkan pengalaman dalam sepuluh tahun terakhir, apabila pertumbuhan ekonomi ditargetkan diatas enam persen, maka laju inflasi tidak mencapai angka dibawah lima persen.

Pemerintah dalam RAPBN 2011 menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,3 persen, nilai tukar Rp9.300 per dolar AS, inflasi 5,3 persen, suku bunga SBI tiga bulan 6,5 persen, harga minyak 80 dolar AS per barel, dan lifting 0,970 juta liter per hari.

Inflasi September Capai 0.44 Persen
Inflasi bulan September 2010 mencapai 0.44 persen yang terutama dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi sandang bersamaan dengan Idul Fitri.

Dengan demikian inflasi tahun kalender selama Januari hingga September sebesar 5.28 persen, sedangkan inflasi (yoy) dibandingkan tahun lalu sebesar 5.08 persen.

sumber :http://www.vibiznews.com/article/economy/2010/10/05/inflasi-indonesia-bergerak-naik

inflasi juni 2010 diprediksi naik

BPS: Inflasi Juni Diprediksi Naik


JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan laju inflasi Juni akan lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.Kenaikan inflasi terutama disebabkan kenaikan harga sejumlah bahan pangan.

Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan, komoditas cabai diperkirakan menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Hal ini, selain karena fluktuasi harga juga disebabkan pasokannya yang berkurang.

"Kecenderungannya adalah inflasi Juni menjadi lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya," ujarnya di Jakarta.

Menurut dia, kenaikan harga cabai juga disebabkan kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi cabai segar dibandingkan cabai olahan.Meski demikian, Rusman memperkirakan inflasi Juni masih dalam posisi aman dan masih berada di bawah satu persen.

BPS pada Mei 2010 mencatat inflasi sebesar 0,29 persen.Dengan besaran inflasi kumulatif Januari-Mei 2010 sebesar 1,44 persen, sementara inflasi year on year pada Mei 2010 mencapai 4,16 persen.

"Jika masyarakat bisa pindah ke cabai olahan, otomatis inflasi tidak akan banyak terbebani," ungkap Rusman.

Harga cabai merah di pasarpasar tradisional kata Rusman,bisa mencapai Rp40.000 per kg sejak awal Juni 2010.Kenaikan harga ini disebabkan oleh kurangnya suplai cabai merah dari petani dan semakin tingginya permintaan menjelang bulan puasa.

"Hal yang perlu diwaspadai pada Juni-Agustus akan ada tekanan inflasi yang cukup besar, yang pertama ada tahun ajaran baru, liburan sekolah, rencana kenaikan TDL (tarif dasar listrik), dan Agustus persiapan Ramadan," paparnya.

Meskipun akan ada lonjakan inflasi pada bulan-bulan tersebut, Rusman mengaku optimistis bahwa inflasi akan berada di kisaran batas aman pemerintah 5,3–6 persen. Apalagi kalau dilihat dari year on year (yoy) inflasi memang 4,16 persen atau tinggal sedikit lagi ke 5,3-6 persen.

"Walaupun sudah dekat dengan angka pemerintah, tapi kalau yoy kita masih aman," urainya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi Juni 2010 lebih tinggi dibanding inflasi Juni 2009. Pjs Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, meningkatnya inflasi Juni 2010 disebabkan oleh kenaikan TDL yang efektif berlaku pada awal Juli 2010.

"Memang ada ekspektasi yang berubah, tapi sedikit di atas rata-rata," katanya.

Namun, Darmin tidak menyebutkan berapa besar kenaikan inflasi pada Juni 2010. Kendati begitu, menurut dia,kenaikan inflasi tidak akan jauh di atas rata-rata.

"Yang jelas,lebih tinggi sedikit dibandingkan Juni 2009," ungkapnya.

Inflasi hingga akhir tahun,kata Darmin, akan terkendali meski terjadi gejolak pada harga-harga bahan pangan.Hingga akhir tahun inflasi tetap berada pada kisaran 5,2 persen.

Dengan kondisi itu,katanya, BI belum berencana untuk mengubah suku bunga acuannya (BI Rate). Karena BI Rate pada level 6,5 persen masih dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"BI Rate masih sesuai dengan tingkat inflasi untuk mendorong ekonomi," bebernya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ardhayadi Mitroadmodjo mengatakan, tingkat inflasi di kawasan Indonesia timur masih di atas rata-rata nasional.

"Salah satu masalah tingginya inflasi, yakni faktor distribusi di mana ketersediaan sarana dan prasarana infrastruktur yang belum mampu menyeimbangkan kondisi geografis," paparnya dalam seminar bertajuk ”Potensi Pengembangan Ekonomi dan Tantangan Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia” di Kantor BI Makassar.

Ardhayadi mengatakan,pergerakan barang di kawasan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi alam dan cuaca. Dia menambahkan, hal itu diperparah kondisi jalan yang belum memadai dan alat transportasi yang kurang andal.

"Tidak hanya akan menghambat bagi pengembangan ekonomi daerah di KTI dan menurunkan daya beli masyarakat di KTI," ujarnya.

Lead Economist Bank Dunia Shubham Chaudhuri sebelumnya memprediksikan tingkat inflasi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5,1 persen,walau pada semester II/2010 pertumbuhan harga konsumen mengalami percepatan.

"Kelesuan yang tidak diperkirakan pada semester I/2010 dan mudah berubahnya harga pangan, menyebabkan penurunan proyeksi inflasi tahunan," ungkapnya.

Dia memprediksi, laju inflasi akan turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2010.Pemerintah hanya bisa meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia bila daya investasi ditingkatkan.

"Meski lebih tinggi dari periode sebelumnya.Pertumbuhan kali ini juga tetap terhalang inflasi,walaupun sektor manufaktur tidak tumbuh signifikan tidak seperti konsumsi," paparnya.
sumber : http://economy.okezone.com/read/2010/06/29/320/347646/bps-inflasi-juni-diprediksi-naik

Potensi kenaikan BBM dorong laju inflasi 2010

 POTENSI KENAIKAN BBM DORONG LAJU INFLASI 2010

Jakarta, Bank Indonesia (BI)memperkirakan inflasi tahun 2010 akan lebih tinggi dari tahun 2009 terkait dengan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji akibat mulai naiknya harga minyak dunia.

Hal ini dikemukakan oleh peneliti Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Rudy Hutabarat di sela Musyawarah Penanaman Modal di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (6/8/2009).
"Pasca pemilu biasanya diikuti kenaikan BBM dan elpiji, itu bisa mendorong inflasi," ujarnya.

Menurutnya, harga jual BBM bersubsidi masih berpotensi meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$ 70 per barel. Sama halnya dengan harga jual elpiji tabung 12 kg yang saat ini dijual pada harga Rp 5.000 per kg sedangkan harga keekonomiannya berada di sekitar Rp 7.000 per kg.

Kenaikan Elpiji

Rudy juga mengatakan, BI memperkirakan kenaikan harga elpiji tahun 2010 bisa menyumbang inflasi sebesar 0,28-0,55%.

"Untuk mendekati harga keekonomiannya, potensi kenaikan elpiji 12 kg diperkirakan sekitar 13-26% sehingga akan memberikan sumbangan sebesar 0,28-0,55% inflasi," katanya.

Menurutnya pada bulan Juli 2008 PT Pertamina sempat mengusulkan kenaikan harga elpiji 12 kg setiap bulannya untuk disesuaikan dengan harga keekonomiannya, namun usulan tersebut dibatalkan oleh pemerintah.

"Dengan ini potensi kenaikannya cukup besar, terkait dengan harga jual elpiji 12 kg dan industri internasional yang cukup tinggi," katanya.

Ia menambahkan, dampak kenaikan elpiji terhadap inflasi tersebut sudah mempertimbangkan meningkatnya bobot elpiji dalam indeks harga konsumen. Bobot elpiji di tahun 2010-2012 akan meningkat sehingga terus memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap inflasi.

Sementara, kenaikan harga minyak tanah akibat masih adanya permintaan di tengah pengurangan pasokan diperkirakan tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap inflasi.
sumber :http://www.kilasberita.com/kb-finance/ekonomi-a-moneter/19464-potensi-kenaikan-bbm-dorong-laju-inflasi-2010

Laju inflasi indonesia lebih baik dari zimbabwe



Laju Inflasi Indonesia Lebih Baik Dari Zimbabwe  
 
 
   sumber : http://www.radar.co.id/berita/read/3831/2010/Laju-Inflasi-Indonesia-Lebih-Baik-Dari-Zimbabwe-  
 
 
  Laju inflasi yang tinggi selalu menjadi masalah perekonomian di Indonesia, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan laju inflasi di indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Menurutnya inflasi Indonesia sampai 600% pernah terjadi dimasa Orde Lama. Pada tahun 2005 pemerintah memutuskan harga bahan bakar minyak dinaikkan saja. Inflasi menjadi 17 persen saja rakyat masih ngamuk.

“Di sini masih lebih baik tidak seperti di Zimbabwe yang saat ini inflasinya 7.000%, jadi duit itu beli bakso Rp 7.000 perak, jam 12 sudah jadi Rp 10.000," ujar Sri Mulayani yang juga Menteri Perekonomian dalam acara olimpiade APBN Tingkat SMA di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Rabu (5/8/2009).

Sebagai pemegang kuasa anggaran Negara, kata Sri Mulyani, terkait APBN, dirinya akan sangat ketat dalam melakukan seleksi dan menyetujui anggaran yang diajukan kementerian dan lembaga yang ada.

"Menyusun APBN secara prinsip sama dengan belanja. Mungkin karena menkeunya cewek mengerti dan senang belanja. Menteri pertanian bilang begini begitu kayak dampak el nino dibutuhkan anggaran lebih, Menteri ESDM minta subsidi, Menhub minta dibikin pelabuhan, seperti itu. Jadi mana yang bisa dipotong, yang bisa dirasionalkan," jelasnya.

Sebab menurutnya jika Menteri Keuangan tidak selektif dalam menyetujui anggaran kementerian dan lembaga maka defisit anggaran akan meningkat.

"Kalau (anggaran) tidak bisa (dipotong) ya kita harus defisit, artinya pinjam. Waktu zaman Pak Soekarno defisit sangat kronis. Pinjam-pinjam masih kurang maka suruh cetak duit. Karena BI tidak independen. Maka tinggal minta uang dicetak sebanyak-banyaknya, misalnya untuk bikin Monas kita cetak duit banyak," ujarnya.