Kamis, 03 November 2011

Prospek Ekonomi 2012 Menjanjikan



Perekonomian Indonesia tahun 2012 tetap menjanjikan, asal tidak terganggu bencana banjir yang sebenarnya bisa dihindari, terutama di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.
Banjir jangan disepelekan, bercermin dari banjir yang melanda Thailand saat ini, yang menelan korban jiwa dan menyebabkan kerugian signifikan secara ekonomi.
"Banjir di Thailand sudah melanda lebih dari dua bulan. Kerugiannya sangat besar. Jadi, sebaiknya mulai sekarang ada gerakan untuk melihat lingkungan masing-masing. Kalau ada sampah yang menutup jalan air, segera dibersihkan, jangan sampai menyebabkan banjir," ujar Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati di Jakarta, Kamis (3/11/2011), saat berbicara dalam diskusi Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi dan Moneter tentang Menakar Kekuatan Indonesia dalam Menahan Krisis Lanjutan.
Menurut Anny, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap tumbuh 6,7 persen, meskipun banyak pengamat ekonomi memperhitungkan hanya akan tumbuh 6,3 persen. Pemerintah juga tetap optimis, meskipun kondisi perekonomian dunia sedang lesu akibat krisis yang terjadi di benua Eropa.
"Jika pengamat ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 6,3 persen, maka pemerintah akan berupaya agar perhitungan itu tidak terjadi. Pertanyaannya apakah kita akan biarkan? Atau harus tetap 6,7 persen APBN," ujarnya.
Untuk menahan perlambatan ekonomi yang mungkin terjadi, pemerintah sudah mempersiapkan kebijakan yang berlapis.
"Pemerintah menjaga proyeksi yang disampaikan analis supaya tidak terjadi, karena sudah termasuk APBN 2012. Kami pun sudah menyiapkan kebijakan berlapis lapis, misalnya dari sisi belanja modal, dan mempercepat belanja modal kita di 2012," jelasnya.
Pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis tahun 1998 dan 2008, membuat pemerintah siap menghadapi krisis global yang mungkin terjadi lagi.
"Sekarang kami sudah tahu jauh-jauh hari, dan mempersiapkan pengamanan berlapis. Sekarang tinggal pengawasannya, kalau ada pergerakan diluar kelaziman," paparnya.

sby berkomentar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan sejumlah langkah ekonomi yang dilakukan Indonesia untuk bertahan dan menghindari imbas krisis ekonomi global yang dilakukan sejak 2008 hingga saat ini membuahkan apresiasi dari kalangan negara-negara G-20. Apresiasi itu dibuktikan dengan memasukkan Indonesia menjadi salah satu dari enam negara yang ekonominya dipandang baik dalam draft rencana aksi KTT G-20 di Cannes 2011.

"Ada empat chapter (bab-red) dalam rencana aksi ini yang memotret perekonomian kita," kata Presiden dalam paparan posisi dan pandangan Indonesia dalam menyikapi sejumlah isu di KTT G-20 di Cannes, Rabu siang waktu setempat atau rabu petang waktu Jakarta.

Dalam bab pertama, disampaikan bahwa Indonesia, Australia, Kanada, Jerman, China dan Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan kondisi finansial yang kuat saat ini. Pada bab lainnya, masih kata Presiden, Indonesia bersama Korea Selatan memiliki peran yang signifikan untuk ikut mendorong terjadinya keseimbangan global.

"Menjadi frame work G-20 sejak pertemuan di London bahwa masyarakat dunia harus bersatu untuk menciptakan keseimbangan global. Indonesia dianggap memiliki peran penting untuk bisa memberikan kontribusi pada ekonomi dunia yang lebih baik. Pada bab yang sama kita juga dicatat memiliki infrastruktur yang kuat dan mendorong investasi," kata Presiden.

Pada bab lainnya, kata Presiden, Indonesia digolongkan sebagai negara yang memiliki prospek infrastruktur investasi yang baik bersama India dan Afrika Selatan. Dan dalam bagian lain di draft action plan itu, Indonesia dianggap memiliki kebijakan yang tepat dengan kebijakan pengurangan subsidi namun mensubtitusinya dengan jaminan perlindungan sosial.

"India dan Indonesia dianggap memiliki kebijakan untuk mengurangi subsidi yang tidak tepat sasaran dalam jangka menengah ditata ulang dan sumber keuangan diarahkan untuk membantu kaum miskin secara tepat," kata Presiden.

Dengan apresiasi dalam draft tersebut, Presiden mengatakan itu menunjukkan bahwa langkah ekonomi yang diambil oleh Indonesia sudah tepat dan memberikan kontribusi kepada penanganan krisis ekonomi global.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo usai memberikan keterangan pers bersama sejumlah menteri setelah rapat terbatas yang dilangsungkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cannes, Selasa (2/11) malam waktu setempat mengatakan pembahasan tersebut tepat dan merupakan tantangan bagi Eropa untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut.

"Saya rasa tepat ya negara besar ketemu untuk membahas masalah Yunani, tapi ya untuk membuat sembuh ekonomi mesti meminum pil pahit ya, itu yang saya harapkan ..rasanya tantangan besar bagi Eropa," kata Agus.

Agus menilai mungkin pembahasan krisis Eropa ini akan mengambil porsi cukup besar dalam KTT G-20 kali ini namun bukan berarti isu-isu lain terutama yang berhubungan dengan kawasan lain yang tidak mengalami krisis akan diabaikan.

"Akan banyak sekali, diantara semua sesi ada dua sesi pertama itu tentang global ekonomi, jadi akan banyak bicara disitu, tapi setelah itu kan ada isu tentang energi, pangan, anti korupsi, finansial inclusion, tapi saya rasa global ekonomi (akan dibahas banyak-red)," paparnya.

Menkeu enggan berandai-andai jika kemelut antara negara Uni Eropa dan Yunani terkait keinginan Yunani untuk melakukan referendum sebelum menerima paket bantuan tidak menemukan titik temu, Agus hanya mengatakan semua pihak melihat dan menunggu perkembangan yang terjadi.

Sementara itu Wakil Menkeu Mahendra Siregar mengatakan semua pihak realistis dengan kondisi yang terjadi dan mengharapkan proses penyelesaian dapat terus berlangsung.

"Kalau saya cukup realistis bahwa ini kan proses penyesuaian yang harus diatasi terus ya. Saya pikir kita lihat bagaimana pendekatan di internal Euro Zone mengatasi ini dan kita pada gilirannya langsung atau tidak melalui tugas dan kontribusi kita masing-masing di kawasan dan nasional," paparnya.(Ant/BEY)

BI: Perekonomian Indonesia Menuju Kestabilan



<a href='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/ck.php?n=a6f00733&cb=' target='_blank'><img src='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/avw.php?zoneid=400&cb=&n=a6f00733' border='0' alt='' /></a>
TEMPO Interaktif, Jakarta -- Pengelolaan makro ekonomi Indonesia sudah dalam jalur yang benar dan menuju kestabilan. Hal itu, misalnya, terlihat dari catatan tren inflasi yang cenderung menurun dan stabil.

"Indikator kalau stabilitas ekonomi makro jika sudah mencapai long run inflation yang menurun," kata Peneliti Ekonomi Utama pada Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Darsono pada diskusi "Mengukur Kekuatan Indonesia Menghadapi Krisis Global" yang diadakan Froum Wartawan Keuangan dan Moneter bersama Bank Negara Indonesia di Jakarta, Kamis, 3 November 2011.

Kestabilan yang dicapai sudah dirintis dalam waktu jangka panjang. Darsono lalu menggambarkan besaran inflasi Indonesia sejak sebelum krisis 1998 hingga sekarang memang terus menurun. "Kalau sebelum 1998, rata-rata inflasi sekitar 9-10 persen. Sekarang, inflasi asal tidak sampai double digit," kata dia.

Pasca krisis hingga 2004, inflasi sudah mulai menurun sekitar 7-8 persen. Pada 2004-2006, inflasi hanya sekitar 6-7 persen.
"Sekarang, secara fundamental, inflasi rata-rata 4-5 persen," kata Darsono.

Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady mengatakan kondisi inflasi yang rendah, baik untuk perekonomian Indonesia. "Sebab, daya beli kuat dan bisa mengamankan pasar domestik yang potensinya besar," kata dia. Apalagi dalam kondisi perekonomian global yang masih lemah sehingga pasar ekspor terganggu.

Untuk meningkatkan konsumsi dalam negeri, kata dia, harus didorong dengan optimalisasi pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2011 Diperkirakan Lebihi Target

JAKARTA- Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 ini dapat melebihi target yang telah ditentukan sebelumnya yaitu sebesar 6,4%.

"Kami memprediksi pertumbuhan Indonesia tetap di atas 6%," kata Mari Elka Pangestu di Jakarta, Senin.

Menurut Mari, perkiraan jumlah pertumbuhan tersebut terindikasi antara lain dari data pada triwulan II tahun 2011 yang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia telah tumbuh 6,5%.

Dengan demikian, maka pada tahun 2011 ini, ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh 6,5%atau lebih tinggi dari perkiraan semula yakni 6,4%.

Hal tersebut merupakan pencapaian yang baik karena akibat meningkatnya risiko tekanan krisis utang di Amerika Serikat (AS) dan Eropa serta fluktuasi harga komoditas global diprediksi mengakibatkan revisi pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut perkiraan yang dibuat sejumlah lembaga internasional seperti IMF, pertumbuhan ekonomi dunia direvisi akan menurun baik pada 2011 maupun 2012.

Revisi tersebut antara lain menyebutkan bahwa perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2011 direvisi dari 4,3% menjadi 4%, sedangkan perkiraan pertumbuhan pada 2012 direvisi dari 4,5% menjadi 4%.

Perlambatan itu terjadi terutama di kawasan negara-negara maju yang pertumbuhannya hanya akan mencapai 6 persen (y-o-y).

Sedangkan negara-negara berkembang termasuk di kawasan ASEAN diperkirakan masih akan dapat tumbuh hingga di atas 5 persen (y-o-y).

Sementara volume perdagangan dunia diperkirakan juga melambat menjadi 7,5 persen (y-o-y), dan akan terus melambat hingga 2012 sebesar 5,8 persen (y-o-y).

Mendag mengemukakan, terkait dengan perdagangan, momentum pertumbuhan ekspor Indonesia tetap terjaga yaitu mengalami peningkatan 17,4 persen (y-o-y) pada triwulan II 2011.

"Kami optimistis jumlah ekspor pada tahun 2011 mencapai 200 miliar dolar AS," katanya.

Ia juga menuturkan, Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan baik untuk produk migas maupun produk nonmigas.(ant/hrb)

PENGARUH KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA 2011


 
 
 
 
 
 Situasi keuangan dunia yang makin tak menentu seakan menjadi ancaman bagi perekonomian dunia. Bagaimana tidak, Amerika Serikat masih juga belum menemukan titik temu dalam perdbatan antara pemerintah dan kongres mengenai kenaikan pagu utang, dan efisiensi anggaran. Bila hingga tanggal 2 Agustus 2011 mendatang, pemerintah AS dan kongres tak juga sepakat untuk menaikkan pagu utang senilai US$ 14,3 trilyun, dapat dipastikan Amerika akan mengalami gagal bayar terhadap utang-utangnya dan akibatnya rating Amerika Serikat yang sejak 1917 bertengger di AAA akan di downgrade oleh lembaga pemeringkat utang macam Moody’s, Standard Poor’s dan Fitch. Sejumlah pihak meramalkan hal ini sebagai awal kehancuran perekonomian dunia, karena Amerika Serikat sebagai pusat keuangan dunia dan pasar ekspor yang besar bagi banyak negeri exportir, akan mengalami kekacauan, biaya dana akan meningkat, daya beli akan menurun, dan diperkirakan hal ini akan berpengaruh cukup besar bagi negara di dunia
Sementara dari belahan benua lainnya, Eropa, krisis yang dialami Yunani masih juga belum dapat diselesaikan. Yunani mengalami kebangkrutan dan frustasi. Uni Eropa juga belum kompak. Program penghematan yang hendak dilakukan pemerintahan PM George Papandreou, sebagai syarat untuk memperoleh dana talangan dari trio IMF, Uni Eropa dan European Central Bank, mendapat tentangan cukup kuat dari warganya.
Situasi demikian seakan menjadi ancaman bagi perekonomian di seluruh dunia, karena Amerika dan Eropa menjadi kiblat perekonomian dunia. Namun, apakah dampak situasi tersebut bagi perekonomian Indonesia?
Seminggu ini saya sedang banyak berpikir, apakah saya harus merelokasi investasi di saham, dan reksadana berbasis saham yang saya miliki, terutama untuk saham perusahaan yang berbasis ekspor. Kekhawatiran sempat juga melanda, apalagi bila melihat harga emas dunia yang dianggap dapat menjadi alat lindung nilai, yang terus meroket. Sementara nilai tukar US Dollar juga terus merosot. Walaupun tidak melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap ragam investasi yang saya miliki, tapi sedikit banyak saya juga mulai mengkonversi simpanan dalam US Dollar serta menambah kepemilikan logam mulia.
Namun saya mencoba membuka catatan mengenai Indonesia yang saya miliki. Indonesia ternyata tetap memiliki catatan yang unik dibanding negara-negara lain di regional maupun dunia. Untuk periode Desember 2010 hingga Juli 2011, Bursa Efek Indonesia mengalami pertumbuhan 8,11 persen, mengalahkan Malaysia yang tumbuh 4,99 persen dan Korea yang tumbuh 6,31 persen. Sementara Bursa Shanghai, Hongkong dan Singapura malah mencatatkan penurunan, masing-masing sebesar 0,37%, 1,34% dan 1,22%. Dalam beberapa moment, saya mengamati bursa Indonesia sering menghijau di kala bursa regional terhempas.
Situasi perekonomian dunia yang memburuk dapat dibaca secara positif sebagai peluang untuk mengembangkan  pasar uang Indonesia untuk lebih tumbuh. Mengapa? Karena perekonomian Indonesia didukung oleh konsumsi dalam negeri yang cukup besar dan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang cukup tinggi. Selain itu kondisi pemerintahan yang relatif stabil dan inflasi yang terkendali serta cadangan devisa bulan ini yang mencapai USD 119 miliar, menjadi alasan pendukung bagi tumbuhnya perekonomian Indonesia.
Tampaknya Indonesia akan menjadi pilihan fund manager untuk mengembangkan investasinya di kala situasi dunia yang kurang baik. Situasi ekonomi dunia akan menguntungkan Indonesia dan Indonesia akan tetap mengalami pertumbuhan yang baik hingga 2012 mendatang. Jadi untuk tahun 2011 ini, situasi pasar uang Indonesia saya rasa akan tetap baik, meski berbagai koreksi akan dialami Indonesia, walau tidak signifikan. Namun tak ada salahnya bagi kita untuk mendiversifikasi investasi terutama dalam emas dan property untuk mengurangi tingkat resiko yang tak diinginkan.

prospek perekonomian

Menapaki kuartal terakhir 2010, ada hawa optimis yang berhembus dalam ruang perekonomian kita. Harian The New York Times, edisi 5 Agustus 2010 menyebut: Indonesia adalah sebuah model ekonomi, setelah melewati krisis lebih dari sepuluh tahun. Sementara Financial Times (12/08/2010) mengatakan, perekonomian Indonesia merupakan macan yang tengah terbangun.

Negeri ini merupakan salah satu target investasi yang menjanjikan. Tidakkah kita optimis menghadapi tahun 2011?

 
            Tentu saja kita layak optimis. Namun, tetap harus waspada, karena ada beberapa “tantangan struktural” yang juga serius. Kegagalan kita mengelola persoalan-persoalan mendasar, justru akan menjebak kita. Kita hanya akan menjadi bangsa yang labil, karena hanya menjadi target investasi portofolio jangka pendek.
Jika kita tengok kondisi sektor finansial kita, yang meliputi pasar modal, uang, utang dan perbankan, nampaknya tak ada yang mengkuatirkan. Secara umum, peringkat investasi Indonesia terus meningkat, seiring dengan semakin turunnya credit default swap (CDS) sebagai cermin dari risiko investasi. Bahkan, Japan Credit Rating Agency Ltd., (JCRA) telah menaikkan peringkat Indonesia ke level “investment grade”  atau BBB- pada bulan Juli lalu. Tidak menutup kemungkinan, lembaga pemeringkat lainnya juga akan menaikkan rating Indonesia di tahun 2011.
Sementara ini, Moody’s masih menempatkan Indonesia dalam 2 tingkat di bawah level investasi (Ba2) dalam evaluasinya Juni lalu. Demikian pula S&P yang pada bulan Maret mengevaluasi peringkat Indonesia dan menetapkan posisi BB+/stable. Dan, Fitch Rating juga menempatkan Indonesia pada satu tingkat di bawah investment grade, yaitu BB+. Selain bersikap optimis, nampaknya kita juga perlu bertanya: faktor-faktor apa sajakah yang akan menghambat kita masuk ke level investasi?
Masih melanjutkan cerita sukses, prospek perbankan kita juga tak kalah kinclong. Di tengah ambruknya sistem perbankan global, perbankan Indonesia justru membukukan tingkat keuntungan yang tinggi, selain menunjukkan tingkat kehati-hatian. Tingkat Net-Interest Margin (NIM) perbankan Indonesia yang mencapai angka sekitar 5,7 persen, merupakan angka paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara sekitar. Bandingkan dengan Singapura yang NIM nya hanya sekitar 2 persen, Malaysia 2,3 persen, Thailand 3,3 persen. Jadi, tak salah jika para bankir asing sangat berminat masuk ke Indonesia, di samping karena potensi pasarnya yang masih sangat luas.
Ternyata, tingkat profitabilitas yang tinggi juga ditopang oleh tingkat kesehatan bank yang tinggi pula. Jika Basel Accord III diterapkan, dipastikan sektor perbankan di Indonesia tidak akan mengalami masalah. Menurut data Bank Indonesia yang dikeluarkan pada bulan Agustus 2010, dari 113 bank yang ada di Indonesia hanya 8 bank yang tingkat kecukupan modalnya (capital adequacy ratio) di bawah 8 persen. Sehingga, untuk mengikuti aturan Basel tentang modal utama atau Tier 1 Capital sebesar 4,5 persen yang harus tercapai pada 2013) dan 6 persen pada 2019, tidak akan menjadi persoalan.  
 
Persoalan Struktural
            Secara umum, prospek perekonomian Indonesia tahun 2011 sangat menjanjikan. Dan dengan demikian, potensi untuk memperolah gelar investment grade bukanlah hal yang mustahil. Tetapi, tetap saja ada persoalan-persoalan yang harus segera diatasi. Dan jika tidak, lagi-lagi kita berpotensi akan kehilangan kesempatan untuk kesekian kalinya, di berbagai bidang.
            Pada prinsipnya, ada dua bidang besar yang masih menjadi kendala perekonomian kita untuk masuk dalam kritria perekonomian yang kuat. Tantangan pertama terkait dengan masih relatif kecilnya proporsi sektor keuangan kita terhadap skala perekonomian kita yang sangat besar. Dengan demikian, isu financial deepening masih sangat relevan untuk direspon. Kalau perbankan kita stabil dan menguntungkan, so what? Perekonomian maju salah satunya ditandai dengan penetrasi sektor keuangan yang cukup dalam terhadap dinamika perekonomian.
Dalam laporan Bank Dunia, Financial Access 2010, terlihat bahwa jumlah penabung per 1.000 orang di Indonesia masih sangat kecil, yaitu di bawah 1.000. Sementara, Thailand sudah mencapai sekitar 1.500. Bahkan Malaysia sudah lebih dari 3.000. Kecenderungan yang sama juga terjadi dalam hal jumlah pinjaman per 1.000 penduduk. Kita sejajar dengan Kamboja dan Mongolia, dan tertinggal jauh dari Malaysia. Bahkan kita jauh di bawah angka rata-rata untuk negara sedang berkembang.
Data lain yang juga menunjukkan “dangkalnya” sektor finansial di Indonesia adalah rasio jumlah uang beredar (broad money/M2) terhadap PDB yang juga masih kecil, dan bahkan ada  kecenderungan semakin mengecil hingga tahun 2007 lalu. Tentu saja, hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari otoritas moneter dan pemerintah. Terkait dengan rencana pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertanyaan yang layak diajukan, siapa nanti yang akan bertanggungjawab mendorong financial deepening?
Persoalan struktural kedua terkait dengan tingkat daya saing sektor riil kita yang masih relatif buruk. Meski World Economic Forum (WEF) dalam “World Competitiveness Report” telah menaikkan indeks daya saing kita dari 54 menuju 44 untuk periode 2010-2011 ini, tetapi tidak serta-merta terjadi perubahan mendasar. Dari laporan tersebut, terlihat bahwa membaiknya tingkat daya saing kita lebih didorong oleh perbaikan faktor-faktor makro ekonomi, seperti tingkat inflasi yang terjaga, pertumbuhan yang relatif tinggi di tengah krisis global, suku bunga yang reletif rendah dsb.
Namun, kalau kita tengok sisi fundamental dari daya saing, seperti ketersediaan infrastruktur, dukungan birokrasi serta kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat, kita masih terbilang buruk. Dengan demikian, masih ada banyak pekerjaan yang diselesaikan untuk benar-benar meningkatkan daya saing kita. Bisa jadi, kalau kita hanya bertumpu pada stabilitas makro, tahun depan kembali melorot, kalau terjadi goncangan pada sisi makro ekonomi.
Tanpa perbaikan infrastruktur, ketersediaan sumber daya energi serta dukungan birokrasi, sektor riil pada dasarnya tidak akan bergerak cepat. Dan jika itu terjadi, stabilitas sektor finansial tidak akan berarti banyak dalam peningkatan kapasitas ekonomi. Konkritnya, tidak akan ada pergerakan sektor produksi yang meningkatkan daya beli masyarakat, dan akhirnya kemampuan membayar pajak. Jika siklus ini gagal dicapai, maka investment grade tidak akan ada artinya.
 
Manfaat Investment Grade
            Jika pemerintah gagal mendinamisir sektor produksi, melalui peningkatan kapasitas investasi riil, dikuatirkan potensi investment grade yang sudah di depan mata juga tidak bisa diraih. Lembaga pemeringkat tentu tidak bisa dikelabui dengan menutup fakta-fakta riil di lapangan. Kalaupun sekarang modal asing masuk deras, itu bukan semata-mata karena alasan fundamental ekonomi domestik, tetapi juga faktor eksternal.
            Dan jika perbaikan struktural gagal dicapai oleh Indonesia, sebenarnya perekonomian kita hanya layak untuk menanam modal portofolio saja, yang bisa angkat kali sewaktu-waktu ada dorongan, baik dari sisi domestik maupun global. Tahun 2011 adalah penentuan, apakah potensi ekonomi Indonesia akan benar-benar terealisasi, atau sekedar ilusi. Dan untuk tidak membuat ilusi, maka pekerjaan konkrit sudah menunggu: membangun infrastruktur, mereformasi birokrasi, merancang kebijakan energi, pengembangan industri dsb.

bank dunia

Bank Dunia memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 ditargetkan bisa melampaui 6,4 persen bahkan bisa mencapai angka 7 persen apabila pemerintah Indonesia melakukan reformasi secara menyeluruh pada berbagai bidang termasuk pembenahan infrastruktur.
 "Angka 6,4 itu baik. Bahkan Indonesia berpotensi besar untuk tumbuh mencapai angka 7 persen," kata Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia, Enrique Blanco Armas dalam peluncuran laporan Prospek Ekonomi Global (Global Economic Prospects) dari Bank Dunia, di Jakarta, Kamis (13/01).
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi itu bisa dicapai jika pemerintah melakukan reformasi secara menyeluruh terutama sektor infrastruktur, baik jalan tol, listrik, transportasi, telekomunikasi, minyak dan gas bumi, air minum, sanitasi, dan lainnya. Karena, jelasnya, sektor infrastruktur masih menjadi masalah yang harus lebih difokuskan oleh pemerintah, sehingga hal itu tergantung pada kebijakan pemerintah terhadap anggaran di tahun ini.
Sementara itu, Direktur Prospek Pembangunan Bank Dunia, Hans Timmer dalam telekonferensi mengatakan, menurut proyeksi ekonomi global Bank Dunia, saat ini derasnya arus modal asing yang masuk dan harga komoditas yang meningkat di Indonesia bisa menguntungkan dan memperkuat pemulihan bagi pertumbuhan Indonesia.
Hans menambahkan, meski ekonomi global saat ini masih labil, peningkatan dari arus modal internasional bisa memperkuat pemulihan di kebanyakan negara berkembang.
Sedangkan, menurut ekonom utama Bank Dunia, Subham Chaudhuri memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 hanya mencapai 6,2 persen dan pada tahun 2012 akan mencapai 6,5 persen, mengingat sektor infrastruktur di Indonesia perlu dibenahi terlebih dahulu agar Indonesia bisa menjadi pasar yang potensial.